Citrix mampu meningkatkan efisiensi kinerja jaringan Suzuki Finance Indonesia hingga 4 kali lipat, menghilangkan kompleksitas penanganan aplikasi utamanya, dan menyediakan waktu bagi tim TI untuk mengembangkan strategi.
PT Suzuki Finance Indonesia (SFI) merupakan salah satu dari sekitar 130-an perusahaan pembiayaan yang beroperasi di Indonesia pada saat ini. Perusahaan yang mulai beroperasi pada bulan Mei 2005 ini, kini memiliki 40 cabang yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pencapaian jumlah kantor cabang sebanyak ini dalam waktu tak sampai satu tahun, menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan ini tergolong tinggi.
Untuk mendukung pertumbuhan perusahaan ke depan—target tahun ini menambah jumlah cabang paling tidak menjadi 59 cabang,--SFI memerlukan dukungan sistem teknologi informasi yang memadai. Ini memang merupakan tuntutan bagi sebuah perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan, karena berkaitan dengan kualitas layanan kepada pelanggannya.
Dalam lima bulan pertama beroperasi, SFI menghadapi kendala serius berkaitan dengan sistem TInya. Pada jam-jam sibuk, proses transaksi sering melambat bahkan terhenti. Penyebabnya adalah kapasitas bandwidth 128 kbps seringkali terpakai habis di jam-jam sibuk. Selain itu, seringnya update versi terbaru sistem aplikasi di sisi pengguna karena penambahan fungsi--sebelum bisa menggunakan aplikasi tersebut, menambah kompleks penanganan update dan pengawasan versi.
Di saat itulah tim TI SFI mengambil keputusan untuk memecahkan masalah tersebut dengan mengundang beberapa vendor TI. “Saat itulah METRODATA mengenalkan Citrix. METRODATA membantu kami secara menyeluruh mulai dari eksplorasi solusi tersebut hingga membuat proyek percontohan,” kata IT Manager PT Suzuki Finance Indonesia, Budi Setiono.
Mulai pertengahan September 2005, metode akses aplikasi yang dipakai SFI secara client-server diganti secara bertahap dengan metode akses Citrix. Awalnya dua kantor cabang di luar Jawa dijadikan proyek percontohan. Penambahan cabang yang menggunakan Citrix terus dilakukan hingga pertengahan Oktober seluruh cabang yang saat itu jumlahnya 20, sudah menggunakan Citrix. Dan sekarang sudah berkembang menjadi 40 cabang.
“Dengan Citrix, aplikasi cukup dikelola di kantor pusat saja, sehingga meniadakan kompleksitas update dan pengawasan versi aplikasi pengguna di tiap cabang. Sebelum menggunakan Citrix, bandwidth kita penuh di jam-jam transaksi. Dengan Citrix, penggunaan bandwidth tidak lebih dari 64 kbps di satu cabang untuk sekitar 10 komputer atau kira-kira hanya terpakai separuh dari kapasitas 128 kbps, sehingga sisa bandwidth yang ada dapat untuk mengoptimalkan VOIP dan Fax over IP antar cabang dan HO untuk mengurangi biaya operasi komunikasi antar cabang.”, tutur Budi.
“Semua proses dari mulai proyek percontohan hingga roll out kami dibantu tim METRODATA dengan kemampuan yang handal dan profesional. Inilah yang menjadikan alasan utama kami mengapa memilih METRODATA sebagai mitra kami,” jelas Budi. Dukungan setelah roll out pun masih dilakukan METRODATA.
Selain itu, Citrix juga mempercepat data entry per aplikasi, dari sekitar 40-50 menit–paling cepat 30 menit—untuk data entry satu aplikasi, karena banyaknya data yang mesti diinput dan lambatnya response time, menjadi hanya sekitar 15 menit. “Bahkan jika sudah terbiasa dapat lebih cepat lagi,” tandasnya.
Saat ini jaringan kerja SFI meliputi branch, sub branch, dan representative office sudah online dengan head office. “Dengan menggunakan bandwidth yang kurang lebih hanya setengah dari kapasitas, ada peluang untuk mengembangkan jaringan mikro berupa POS (point of sales) dengan memanfaatkan koneksi dial up sehingga dari mana pun dapat terkoneksi dengan aplikasi di kantor pusat melalui Citrix, arahnya seperti itu,” kata Budi Setiono.
Selain membantu mengelola akses, Citrix dapat meningkatkan efisiensi 4 kali lipat berupa rendahnya penggunaan bandwidth dan sumber daya manusia. “Sebelum menggunakan Citrix kami baru memiliki sekitar 20 cabang dan 16 staf TI dan saat itu saya merasa kekurangan orang,” kata Budi. Nah, setelah menggunakan Citrix SFI sekarang memiliki 40 cabang dengan 600 users dengan jumlah staf TI yang sama. Kami yakin masih mampu menangani lebih banyak lagi cabang yang artinya lebih banyak lagi penggunaan komputer.
Keuntungan lainnya adalah, jika sebelumnya jam kerja Budi habis untuk memimpin timnya membenahi masalah-masalah yang muncul akibat aplikasi yang terhenti di jam-jam sibuk, kini Budi punya banyak waktu untuk memikirkan pengembangan TI. “Saat ini saya bisa mulai mengembangkan strategi TI kedepan, misalnya dengan mengembangkan notifikasi status server dengan sms, atau juga notifikasi sms kepada para pelanggan kami, atau approval transaksi yang dilakukan dari outlet menggunakan PDA. Kalau dulu tidak mungkin bisa saya lakukan karena terlalu sibuk dengan mengurus aplikasi itu,” tuturnya.
PT Suzuki Finance Indonesia (SFI) merupakan salah satu dari sekitar 130-an perusahaan pembiayaan yang beroperasi di Indonesia pada saat ini. Perusahaan yang mulai beroperasi pada bulan Mei 2005 ini, kini memiliki 40 cabang yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pencapaian jumlah kantor cabang sebanyak ini dalam waktu tak sampai satu tahun, menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan ini tergolong tinggi.
Untuk mendukung pertumbuhan perusahaan ke depan—target tahun ini menambah jumlah cabang paling tidak menjadi 59 cabang,--SFI memerlukan dukungan sistem teknologi informasi yang memadai. Ini memang merupakan tuntutan bagi sebuah perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan, karena berkaitan dengan kualitas layanan kepada pelanggannya.
Dalam lima bulan pertama beroperasi, SFI menghadapi kendala serius berkaitan dengan sistem TInya. Pada jam-jam sibuk, proses transaksi sering melambat bahkan terhenti. Penyebabnya adalah kapasitas bandwidth 128 kbps seringkali terpakai habis di jam-jam sibuk. Selain itu, seringnya update versi terbaru sistem aplikasi di sisi pengguna karena penambahan fungsi--sebelum bisa menggunakan aplikasi tersebut, menambah kompleks penanganan update dan pengawasan versi.
Di saat itulah tim TI SFI mengambil keputusan untuk memecahkan masalah tersebut dengan mengundang beberapa vendor TI. “Saat itulah METRODATA mengenalkan Citrix. METRODATA membantu kami secara menyeluruh mulai dari eksplorasi solusi tersebut hingga membuat proyek percontohan,” kata IT Manager PT Suzuki Finance Indonesia, Budi Setiono.
Mulai pertengahan September 2005, metode akses aplikasi yang dipakai SFI secara client-server diganti secara bertahap dengan metode akses Citrix. Awalnya dua kantor cabang di luar Jawa dijadikan proyek percontohan. Penambahan cabang yang menggunakan Citrix terus dilakukan hingga pertengahan Oktober seluruh cabang yang saat itu jumlahnya 20, sudah menggunakan Citrix. Dan sekarang sudah berkembang menjadi 40 cabang.
“Dengan Citrix, aplikasi cukup dikelola di kantor pusat saja, sehingga meniadakan kompleksitas update dan pengawasan versi aplikasi pengguna di tiap cabang. Sebelum menggunakan Citrix, bandwidth kita penuh di jam-jam transaksi. Dengan Citrix, penggunaan bandwidth tidak lebih dari 64 kbps di satu cabang untuk sekitar 10 komputer atau kira-kira hanya terpakai separuh dari kapasitas 128 kbps, sehingga sisa bandwidth yang ada dapat untuk mengoptimalkan VOIP dan Fax over IP antar cabang dan HO untuk mengurangi biaya operasi komunikasi antar cabang.”, tutur Budi.
“Semua proses dari mulai proyek percontohan hingga roll out kami dibantu tim METRODATA dengan kemampuan yang handal dan profesional. Inilah yang menjadikan alasan utama kami mengapa memilih METRODATA sebagai mitra kami,” jelas Budi. Dukungan setelah roll out pun masih dilakukan METRODATA.
Selain itu, Citrix juga mempercepat data entry per aplikasi, dari sekitar 40-50 menit–paling cepat 30 menit—untuk data entry satu aplikasi, karena banyaknya data yang mesti diinput dan lambatnya response time, menjadi hanya sekitar 15 menit. “Bahkan jika sudah terbiasa dapat lebih cepat lagi,” tandasnya.
Saat ini jaringan kerja SFI meliputi branch, sub branch, dan representative office sudah online dengan head office. “Dengan menggunakan bandwidth yang kurang lebih hanya setengah dari kapasitas, ada peluang untuk mengembangkan jaringan mikro berupa POS (point of sales) dengan memanfaatkan koneksi dial up sehingga dari mana pun dapat terkoneksi dengan aplikasi di kantor pusat melalui Citrix, arahnya seperti itu,” kata Budi Setiono.
Selain membantu mengelola akses, Citrix dapat meningkatkan efisiensi 4 kali lipat berupa rendahnya penggunaan bandwidth dan sumber daya manusia. “Sebelum menggunakan Citrix kami baru memiliki sekitar 20 cabang dan 16 staf TI dan saat itu saya merasa kekurangan orang,” kata Budi. Nah, setelah menggunakan Citrix SFI sekarang memiliki 40 cabang dengan 600 users dengan jumlah staf TI yang sama. Kami yakin masih mampu menangani lebih banyak lagi cabang yang artinya lebih banyak lagi penggunaan komputer.
Keuntungan lainnya adalah, jika sebelumnya jam kerja Budi habis untuk memimpin timnya membenahi masalah-masalah yang muncul akibat aplikasi yang terhenti di jam-jam sibuk, kini Budi punya banyak waktu untuk memikirkan pengembangan TI. “Saat ini saya bisa mulai mengembangkan strategi TI kedepan, misalnya dengan mengembangkan notifikasi status server dengan sms, atau juga notifikasi sms kepada para pelanggan kami, atau approval transaksi yang dilakukan dari outlet menggunakan PDA. Kalau dulu tidak mungkin bisa saya lakukan karena terlalu sibuk dengan mengurus aplikasi itu,” tuturnya.
Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Ahmad Chairuddin
Telp : 021 - 5754871 / 0856 8877133
e-mail : ahmad.chairuddin@metrodata.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar