PT. MITRA INTEGRASI INFORMATIKA

( METRODATA GROUP )

One Stop Solution for your IT need ( Hardware, Software, Training and Business Solution )

Contact : Ahmad Chairuddin, Telp : 021 - 5754871 / 0856 8877133 / 08174 999642, e-mail : ahmad.chairuddin@metrodata.co.id

Kamis, Januari 17, 2008

Kiat Produsen Velg Unggulan Menangkan Kompetisi

Menyikapi intensitas persaingan bisnis velg yang makin ketat, PT Prima Alloy Steel Universal Tbk membangun sistem teknologi informasi baru yang lebih handal. Bagaimana mereka melakukannya?

Dewasa ini tiap-tiap perusahaan memang dituntut untuk jeli dalam mengidentifikasi perkembangan bisnis di sektor yang digelutinya. Tiap perusahaan bukan saja dituntut untuk tahu secara dalam tentang karakter industri yang digarapnya namun juga harus pintar-pintar mengkalkulasi bagaimana kemungkinan trend-trend di industrinya kedepan serta syarat-syarat yang diperlukan agar terus sukses dalam membidik bisnis itu dalam jangka panjang. Maklum, saat ini konstelasi persaingan di dunia bisnis memang begitu cepat berubah sehingga butuh kemampuan dari para pemain yang terlibat di dalamnya untuk selalu jeli dan adaptif dalam mengembangkan strategi-strategi. Tanpa itu, upaya untuk terus bertahan (survive) di kancah persaingan hanyalah sebuah khayalan.

Prinsip-prinsip semacam itu nampaknya juga dipegang teguh oleh manajemen PT Prima Alloy Steel Universal Tbk(BEJ: PRAS). Perusahaan produsen velg terbesar di tanah air yang berpusat di Sidoarjo, Jawa Timur ini dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan strategi yang cukup unik, termasuk di bidang teknologi informasi. Sebagai perusahaan yang lebih dari 97% produknya diekspor, PRAS tentu harus hati-hati dalam mengembangkan strategi. Manajemen PRAS, yang memproduksi velg dengan merek PCW, Panther, Akuza dan Devino ini paham betul bahwa bagi perusahaan-perusahaan yang pasarnya tergantung pasar ekspor seperti pihaknya, upayanya mencari margin keuntungan hanya bisa diraih dengan cara meningkatkan efisiensi di segala bidang.

Maklum saat ini, untuk mendapatkan keuntungan lebih dengan cara menaikkan harga jual di pasar ekspor rasanya menjadi sesuatu yang sangat amat sulit bahkan tidak mungkin. Lihat saja, harga-harga di pasar internasional (khususnya di negara maju) cenderung sudah standar dan para produsen seperti PRAS-lah yang mesti menyesuaikan dengan standar mereka. Belum lagi, para pemasar dari Indonesia juga tak mungkin menaikkan harga secara sembarangan karena bisa membuat menjadi tak kompetitif dibanding produk sejenis dari negara lain seperti dari China, Thailand dan Vietnam. Karena itu, sekali lagi, manajemen PRAS berkesimpulan, cara terbaik untuk survive, tak lain, dengan menekan seminimal mungkin seluruh biaya, dari biaya produksi hingga biaya operasional lainnya. “Tanpa efisiensi, kita tak mungkin bisa bersaing dengan pemain-pemain dari negara lain,” ujar Agus Manahan, Direktur PRAS.

Dengan alasan itulah sejak tahun 2004 PRAS amat serius mengganti sistim teknologi informasi (TI) di perusahaan yang sudah go public itu dengan sistem aplikasi baru, yakni dari SAP. Manajemen PRAS yakin, sistem TI yang baik akan menjadikan arus informasi di perusahaan menjadi makin lancar dan tepat waktu. Apalagi bila sistem itu sudah terintegrasi antar bagian dalam perusahaan, maka akan memungkinkan terjadinya koordinasi yang lebih baik antar bagian. Data dan informasi antar satu bagian juga menjadi sinkron dan harmonis. Belum lagi dengan adanya sistem TI yang baik pasti lebih menjamin bahwa informasi yang ada akan akurat sehingga benar-benar bisa dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan.

Seperti cerita Agus, sebelum diimplementasikannya sistem baru dari SAP sebenarnya manajemen PRAS sudah menerapkan aplikasi yang dibuat oleh sebuah perusahaan asal Amerika. Aplikasi itu bahkan sudah diterapkan sejak tahun 1997. Namun demikian aplikasi itu kemudian dirasa tak memadai lagi buat kebutuhan PRAS yang bisnisnya makin berkembang. Agus menggambarkan betapa saat ini jumlah varian produk velg yang dihasilkan perusahaannya terus meningkat baik dari sisi varian ukurannya maupun model/desain dan warnanya. Memang merek yang dihasilkan hanya empat brand, namun dari keempat merek itu kemudian dikembangkan dalam berbagai varian yang semua itu butuh penanganan tersendiri. Agus menjelaskan, saat ini PRAS memproduksi lebih dari 85 ribu keping velg tiap bulannya. Bahkan karena ordernya yang begitu banyak, PRAS juga melakukan outsourcing ke China -- namun dengan tetap mengirimkan tim quality control ke negeri Tirai Bambu itu.

Demikian juga dari sisi bahan baku produksinya, juga beragam. Memang bahan baku utama velg hanyalah alumunium, hanya saja, kenyataannya aluminium ini ada yang asalnya dari pemasok lokal, ada juga yang dari impor. Semua itu butuh dukungan sistem yang bagus untuk mengelolanya, termasuk sistem informasinya. “Sistem lama tak memadai lagi karena data dan informasi yang harus dikelola makin kompleks,” jelas Agus berterus terang.

Sebenarnya pada awalnya pilihan yang bisa diambil ada dua strategi. Memasang versi terbaru dari aplikasi yang dimiliki atau menggantinya dengan sistem baru yang dikenal dengan nama SAP. Namun kemudian dipilih SAP karena dinilai aplikasi ini sudah terbukti dan lebih sesuai untuk kebutuhan jangka panjang. “Awalnya memang terkesan mahal namun kami melihatnya sangat tepat untuk kebutuhan jangka panjang,” kata Agus sembari menjelaskan bahwa produk PRAS sudah diekspor kebanyak negara terutama ke negara-negara maju.

Betul, akhirnya pada awal 2004 aplikasi TI baru dari SAP mulai diterapkan yang pemasangannya kemudian selesai dalam enam bulan. Artinya, kini seluruh bagian dalam organisasi PRAS sudah terintegrasi dalam satu jaringan yang selalu online. Tak diperlukan lagi konsolidasi informasi antar bagian yang berbeda. Di PRAS, sistem baru sudah dipasang di bagian keuangan, accounting, sales & distribusi, logistik, dan perencanaan produksi. Antara bagian-bagian tersebut kini sudah selalu online, sehingga bila ada satu bagian yang melakukan input data atau informasi, bagian lain segera akan mudah mengetahuinya tanpa terlebih dulu melakukan kontak fisik atau via telepon. Tak heran, sembari melakukan stabilisasi pemanfaatan sistem baru ini, Agus dan timnya kini mulai merasakan manfaat dari keberadaanya.

Tentu saja dalam mengimplementasi sistem baru ini PRAS tak sendirian karena core competence-nya memang bukan di bidang TI. PRAS menggandeng konsultan TI yang bertugas menjadi implementor dari aplikasi SAP tersebut. Dalam pemilihan implementor SAP ini, Prima Alloy tak sembarangan. Waktu akan memulai projek penggantian sistem baru ini sebenarnya ada lima perusahaan yang berminat yang menjadi implementor sekaligus konsultannya, namun oleh manajemen PRAS yang kemudian dipilih ialah PT Metrodata Electronics Tbk.

Pertimbangannya, seperti tutur Agus, pihaknya tak semata-mata melihat software-nya saja namun juga dukungan yang lain. Mulai dari kesanggupannya untuk memfasilitasi pengadaan hardware, kesiapan after sales servicenya, dukungan-dukungan konsultasi, hingga skema pembayaran yang diberikan. Dari aspek-aspek itu yang juga digabung informasi dari berbagai sumber, akhirnya manajemen PRAS memutuskan memilih METRODATA. Apalagi track record METRODATA di kancah bisnis konsultasi TI memang sudah dikenal luas.

Yang jelas, setelah selesai pemasangannya pada Juli 2004 kini para user TI di PRAS sudah merasakan berbagai manfaat. Agus kemudian memberikan contoh manfaat di bagian produksi. Kini, untuk merancang stok bahan baku, bagian logistik tak perlu lagi bertanya-tanya ke bagian lain berapa bahan baku yang harus disiapkan untuk satu-dua bulan ke depan. Petugas di bagian persediaan bahan baku tinggal melihatnya di komputer yang ada di mejanya karena disitu sudah kelihatan besarnya jumlah order untuk satu-dua bulan kedepan sehingga jumlah itulah yang mesti bahan bakunya disediakan. Data itu diinput oleh bagian penjualan yang biasa mengurusi order.

Di lain sisi, dengan sistem yang terintegrasi seperti ini, jumlah order bahan baku benar-benar bisa disesuaikan dengan kebutuhan riel yang diorder. Tak hanya itu, saat ini bagian produksi pun menjadi lebih akurat dalam melakukan perencanaan produksi baik dari sisi jumlah maupun varian yang diproduksi. Pada masa lalu, sering ditemukan produksi yang jumlah dan variannya nya tidak sesuai order karena ada kesulitan dalam menyesuaikan antara lini produksi dan pemasaran disebabkan banyaknya lalu lintas order. "Sekarang ini mudah diketahui ada berapa jumlah production without order, atau yang di-reject berapa. Dengan sistem baru ini kita jadi tahu beberapa kesalahan yang kita lakukan pada masa lalu dan sekarang segala laporan dan informasi juga lebih cepat sampai ke direksi,” kata Agus yang juga project manager untuk mengimplementasikan sistem TI baru di PRAS ini.

Yang jelas, dari hal-hal inilah diyakini akan tercipta efisiensi karena semua data untuk pengambilan keputusan menjadi lebih akurat. Apalagi kini tak diperlukan pengulangan dalam input data, misalnya bagian logistik membeli bahan baku dengan harga tertentu maka mereka langsung melakukan input ke komputer dan otomatis bisa dilihat oleh bagian keuangan sehingga bagian keuangan tak perlu melakukan input data lagi. Kedepan, Agus berencana mengembangkan pemanfaatan TI untuk keperluan desain dan simulasi produksi. Misalnya untuk membuat velg dengan desain tertentu, maka bisa ditest kekuatannya secara virtual sesuai standard internasional yang berlaku dan bisa diperkirakan biaya produksinya dengan bantuan TI.

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi :
Ahmad Chairuddin
Telp : 021 - 575 4871
e-mail : ahmad.chairuddin@metrodata.co.id

Capriasi Berkembang Menjadi Fashion Company

Lima tahun lalu, manajemen Capriasi sempat takut mengembangkan jaringan bisnisnya saat member menjadi 80 ribu orang. Menambah member berarti cost jadi berlipat-lipat besarnya. Dengan Oracle, tidak ada lagi ketakutan itu. Jumlah member kini menjadi 160 ribu orang, nilai bisnis tetap meningkat dan cost tetap terkendali.

Kehadiran teknologi telah banyak mengubah kehidupan manusia. Hal ini juga terjadi pada PT Capriasi Multinasional Sejahtera (Capriasi), sebuah perusahaan fashion yang menggunakan jalur pemasaran multi level marketing (MLM). Sebagai perusahaan MLM, teknologi informasi (TI) merupakan infrastruktur yang amat penting bagi Capriasi. Karena sistem keanggotaan dan perhitungan bonus tidak bisa lagi dilakukan secara manual, melainkan harus melalui komputer.

Sering kali sistem TI yang tidak dirancang dengan baik, membuat suatu perusahaan itu sulit berkembang. “Saat menggunakan aplikasi yang lama, saya sempat takut berkembang. Karena jika perusahaan berkembang, maka harus menambah orang untuk input data. Saya bertanya-tanya, sampai kapan seperti ini terus,” kata Ir Andry A Tarjono, Presiden Direktur PT Capriasi Multinasional Sejahtera.

Hal ini disebabkan sistem TI yang digunakan Capriasi sejak berdiri 14 November 1998, mengharuskan input data dilakukan secara manual di kantor pusat. Data penjualan dari para member yang saat itu sekitar 80 ribu orang, dikumpulkan oleh 68 direct agent (stockis) di seluruh Indonesia dan difax ke kantor pusat di Jakarta untuk diinput para account officer untuk dikalkulasi agar menghasilkan bonus bagi para member. “Ini merupakan saat-saat sulit, karena semakin berkembang perusahaan maka semakin banyak komputer dan account officer yang harus disiapkan. Data harus selesai diinput dan diproses dalam waktu sangat terbatas. Belum lagi tingginya faktor kesalahan input data yang berbuntut pada kalkulasi ulang,” tambah Andry.

Manajemen lantas memutuskan menggunakan Oracle serta menunjuk PT. Mitra Integrasi Informatika--anak perusahaan PT. Metrodata Electronics, Tbk untuk membangun aplikasi MLM yang baru sekaligus mengimplementasikan aplikasi tersebut. Aplikasi MLM yang baru inilah yang menjadi tulang punggung bisnis Capriasi, mulai dari membership status, transaksi dan inventori barang serta perhitungan bonus tiap stockis dan member. Sejak selesai diimplementasikan tahun 2003, tidak ada lagi ketakutan mengembangkan jaringan dengan penambahan member, tutur presdir perusahaan dengan segmen market utama wanita usia 25-35 tahun ini.

Perubahan besar yang terlihat adalah dari sisi SDM. Dari satu lantai penuh untuk input data, kini yang menangani aplikasi ini hanya 8 orang. Di departemen TI 2 orang yakni 1 orang di software dan 1 orang lagi di jaringan & hardware. Sedangkan untuk pemrosesan data ada 6 orang yang menangani 87 stockis yang tersambung dengan kantor pusat Capriasi melalui jaringan internet. Dengan pencapaian ini, Andry menegaskan, “Keuntungan pertama dengan menggunakan Oracle ini adalah hemat dari sisi SDM. Kedua, saya tidak takut lagi berkembang karena stockis bisa melakukan ordering sekaligus input data setiap hari secara online”. Stok barang juga dapat di pantau secara real time. Karena data dikirim setiap hari, kalkulasi dilakukan setiap hari juga. Dengan demikian member setiap hari dapat memantau status ordernya serta perhitungan poinnya, secara real time online. “Selain itu, keuntungan ketiga: cost efisiensi juga didapat dengan menggantikan pencetakan dan pengiriman laporan bulanan kepada para member dengan menggunakan sms.” Selain lebih hemat, juga lebih cepat.

Kini jumlah member membengkak hingga lebih dari 160 ribu orang. Ini juga dimungkinkan karena saat ini stockis dapat lebih konsentrasi mengembangkan bisnis mereka. Sistem kerjanya jauh lebih bagus karena kalkulasi stock mereka menjadi akurat. Selain itu, kepercayaan member kepada perusahaan juga sangat tinggi karena semuanya transparan. “Untuk memenuhi kebutuhan member, kami memberikan semua informasi agar dapat diakses melalui internet. Efeknya, mereka punya loyalitas kepada perusahaan karena mereka tahu persis bekerja di perusahaan yang memiliki IT system yang sangat handal,” tutur Andry dengan bangga.

Seiring perkembangan perusahaan yang sangat pesat dalam dua tahun terakhir, manajemen Capriasi lantas memutuskan untuk mengubah citra, dari perusahaan MLM menjadi perusahaan fashion yang menjual gaya hidup (life style). Ditandai dengan perubahan tagline perusahaan, dari ‘Capriasi, More than a fashion menjadi ‘Capriasi, Passion for Fashion’. Untuk menunjang itu, ada sekitar dua ribu item barang yang dihasilkan beberapa pabrik Capriasi di Jakarta, mulai dari perlengkapan wanita dan pria, asesoris, serta anak-anak.

MLM tetap dipilih sebagai jalur distribusi. Namun orientasinya berubah, kalau dulu hanya menjual produk kepada member, kini menjual produk kepada end user melalui member yang disebut fashion business consultant. Capriasi juga mendidik mereka melalui berbagai tren fashion terkini agar memiliki suatu wawasan mengenai fashion sehingga bisa memberikan masukan yang lebih baik kepada end user Capriasi.

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi :
Ahmad Chairuddin
Telp : 021 - 575 4871 / 0856 8877133
e-mail : ahmad.chairuddin@metrodata.co.id

INCO: BMC Remedy Meningkatkan Kinerja dan Layanan TI

Menangani lebih dari 3000 users dengan 400 kasus per minggu, bukan pekerjaan mudah jika dilakukan secara manual. Implementasi BMC Remedy tingkatkan Operational Level Agreement response time hingga 90 persen.

Melayani lebih dari 3000 users bukan pekerjaan mudah. Terlebih lagi jika masalah yang dihadapi users ini sangat beragam. Inilah yang berahun-tahun dihadapi tim TI PT International Nickel Indonesia, Tbk. (INCO). “Dulu kami mengelola semua problem dan kasus, baik software maupun hardware secara manual. Kami sangat kesulitan dalam memantau kemajuan dari kasus tertentu dan kinerja dari setiap support staff. Apakah kami telah memenuhi harapan end users dalam menyelesaikan kasus-kasus di TI atau belum, sangatlah sulit untuk mengukurnya,” kata Bernardus Irmanto, IT Customer Service Superintendent INCO. Saat itu tidak ada pilihan lain kecuali mencari solusi yang mampu menangani problem management dan case yang ada, mengingat rata-rata per minggu masuk 300-400 case.

Di samping itu juga sulit mengukur seberapa cepat response dan resolution time terhadap case tersebut, karena tidak ada sistem yang mencatat kapan case tersebut ditanggapi dan kapan selesainya. Semua serba manual. Berawal dari kebutuhan tersebut, maka dicari dan dilakukan seleksi atas beberapa calon sistem, termasuk BMC Remedy. Saat itu digambarkan proses-proses yang ada di INCO, problem management yang ada saat itu, proses ideal yang diinginkan, dan bagaimana pengukuran kinerja yang diinginkan.

Proses-proses itu kemudian dipetakan ke solusi yang ada di pasar, sehingga akhirnya diputuskan menggunakan BMC Remedy. Alasannya karena BMC Remedy paling sesuai dengan proses yang diinginkan, paling sedikit penyesuaiannya dan memiliki skalabilitas jika sewaktu-waktu ingin dikembangkan penggunaannya. Juga sangat sesuai dengan arah INCO untuk mengadopsi ITIL. “Jadi, dasar pembelian kami terhadap BMC Remedy bukan hanya berdasarkan hasil pemetaan proses tersebut, tetapi juga karena engine BMC Remedy yang menjadi inti dari sistem ini sangat powerfull. Selain itu financial analysis terhadap solusi ini juga sangat mendukung.” kata Bernardus Irmanto.

Sedangkan untuk implementer, INCO akhirnya memilih PT Mitra Integrasi Informatika (MII), anak perusahaan PT Metrodata Electronics, Tbk. Kompetensi dan keahlian MII di solusi BMC Remedy menjadikan penentu utama. Selain itu, banyaknya customers base yang MII punya di area implementasi BMC Remedy, serta support yang bisa diberikan kepada INCO.

Pada awal implementasi sistem ini di tahun 2003, INCO baru menggunakan modul BMC Remedy Service Desk untuk menyimpan record-record yang berkaitan dengan response dan resolution time dari case-case yang masuk, termasuk otomatisasi proses problem management. Setelah beradaptasi sekitar setahun, “Kami mulai mengoptimalkan BMC Remedy sejak akhir tahun 2004 dengan membeli satu modul baru untuk diimplementasikan yakni Service Level Management dan menambahnya dengan modul Change Management di tahun 2005,” jelas Bernardus Irmanto.

Kemudian proses problem management direstrukturisasi dengan melakukan validasi semua kategorisasi, dan menerapkan konsep OLA (Operasional Level Agreement). Prosesnya cukup panjang sampai akhirnya INCO benar-benar merasakan manfaat BMC Remedy. Setelah proses itu berhasil, baru dirasakan bahwa Remedy itu sangat powerfull untuk membantu manajemen dalam hal service delivery serta support yang reliable dan responsive.

Selain itu, modul Change Management memudahkan users INCO dalam permintaan layanan TI serta memudahkan dalam memproses administrasi perubahan konfigurasi layanan TI. Sebagai gambaran tim TI INCO harus melayani lebih dari 300 jenis layanan TI yang berbeda, mulai dari akses infrastruktur, akses share folder dan printer, akses beragam aplikasi termasuk aplikasi ERP INCO.

Bagi tim TI INCO kriteria sukses implementasi BMC Remedy tergantung pada apakah BMC Remedy dapat membantu manajemen mengukur kinerja tim TI INCO dan dapat menjadi dasar untuk mengambil keputusan. “Sukses BMC Remedy dapat terlihat jika sistem tersebut bisa memberi informasi apakah tim TI kami sekarang dalam kondisi baik atau buruk, dan dari data yang dihasilkan itu dapat membantu kami untuk mengambil keputusan akan apa yang harus kami lakukan. Jadi investasi kami benar-benar dapat kita rasakan manfaatnya,” urai Bernardus Irmanto.

Contohnya, ada satu PC, kami dapat mengetahui PC ini sudah rusak berapa kali dan menghabiskan uang berapa untuk perbaikannya. Dengan informasi dari BMC Remedy ini support staff dapat memutuskan bahwa PC ini sudah tidak layak diperbaiki lagi karena biaya perawatannya telah melebihi nilai ekonomisnya. Informasi sampai sedetil ini sangat dibutuhkan, dan kini semuanya bisa dijawab oleh BMC Remedy.

Selain itu, response time meningkat setelah OLA diimplementasi dengan bantuan BMC Remedy Service Level Management. Sebelum implementasi tersebut, pengukuran response time hanya mencapai 60-70 persen dari kasus-kasus yang masuk ke tim TI INCO. Setelah BMC Remedy diimplementasikan angka OLA naik menjadi sekitar 90 persen, naik 20 persen dibandingkan sebelumnya. “Sekarang semuanya jadi lebih teratur. Ketika menghadapi suatu masalah, alur kerjanya jelas, eskalasinya jelas, semuanya tertata. Setiap support staf yang terlibat, tahu apa tanggung jawab masing-masing, tahu konteks dari pekerjaan mereka,” jelas Bernardus Irmanto.

Untuk Keterangan lebih lanjut, hubungi :
Ahmad Chairuddin
No.telp : 021 - 575 4871 / 0856 8877133
e-mail : ahmad.chairuddin@metrodata.co.id



Senin, Januari 14, 2008

IT Dibalik Sepotong Roti

Cepat, akurat dan efisien. Itu lah manfaat yang dirasakan PT Nippon Indosari Corpindo dari implementasi SAP FastCPG

Sari Roti. Merek ini mungkin sudah sangat akrab di telinga Anda. Dan mungkin juga, bersama secangkir kopi atau teh, merek tersebut lah yang sering kali menemani sarapan pagi Anda.

Berbagai jenis varian Sari Roti memang begitu mudah di dapatkan. Dari hipermarket hingga warung kelontong menjual produk PT Nippon Indosari Corpindo (NIC) ini yang telah berdiri sejak September 1996. Tapi, tahu kah Anda bahwa proses dibalik hadirnya roti empuk nan lezat di meja makan Anda tersebut tergolong cukup rumit. “Roti merupakan produk yang life cycle nya sangat pendek,” ungkap Yusuf Hady, General Manager NIC.

Dengan karateristik produk yang seperti itu, maka kecepatan mutlak dibutuhkan oleh NIC. Termasuk juga dalam hal pengadaan bahan baku, produksi, sampai distribusi. “Karena itu kami membutuhkan informasi yang cepat (real time) dan akurat untuk meningkatkan manajemen supply chain, meningkatkan perencanaan produksi sehingga meminimalkan barang kembali, serta meminimalkan sisa proses produksi. Apalagi kami berproduksi 24 jam, 7 hari seminggu dan libur produksi setahun paling satu hari,” ujar Yusuf. “IT menjadi salah satu sarana yang bisa menjembatani kebutuhan tersebut,” tambahnya.

Untuk itu, sejak 1 Juni 2006, perusahaan yang juga memproduksi roti dengan merek Boti ini mulai mengimplementasikan SAP FastCPG, solusi berbasis Best Practice mySAP All-In-One yang khusus dikembangkan METRODATA untuk industri Consumer Product Goods termasuk makanan dan minuman. Dengan SAP FastCPG maka waktu implementasi akan lebih pendek, sehingga biaya keseluruhan dapat dihemat. Alex Honki, Project Manager NIC, menjelaskan, selain karena brand SAP sudah sangat dikenal, alasan NIC memilih SAP FastCPG karena dinilai mampu mempercepat proses perubahan yang tengah digulirkan oleh perusahaannya. “Lagi pula, sudah banyak perusahaan manufaktur yang menggunakan solusi SAP,” ujarnya.

Yusuf menambahkan, selama ini, NIC yang memiliki pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang Bekasi, dan di Kawasan Industri Pasuruan, Jawa Timur ini, menghadapi persoalan dari proses bisnis yang tidak terintegrasi, transaksi pada umumnya masih dijalankan secara manual (paper bassed), masing-masing bagian memiliki sistem sendiri-sendiri sehingga ada banyak database. Duplikasi data, kesalahan input data, serta proses konsolidasi data menjadi tantangan besar. “Dengan implementasi ini semua proses tersebut menjadi terintegrasi dengan satu database dan dapat memberikan informasi yang lebih cepat serta akurat,” ujarnya.

Dalam proses implementasinya, NIC dibantu oleh METRODATA. Alex mengatakan, alasan NIC memilih METRODATA sebagai partner implementasi adalah karena NIC banyak mendapat informasi tentang pengalaman perusahaan ini yang telah sukses melakukan implementasi SAP di berbagai perusahaan, serta kemampuan konsultan dan project manager yang dimiliki METRODATA tidak perlu diragukan lagi. Alex menyebutkan bahwa sebelum memilih METRODATA, NIC juga melakukan beauty contest terhadap beberapa perusahaan implementasi SAP lainnya.

Sejak 1 Januari 2007 lalu, solusi SAP FastCPG telah beroperasi secara penuh (go live) di perusahaan ini. Saat ini, modul yang digunakan oleh perusahaan ini meliputi modul-modul ini, seperti Sales and Distribution, Material Managemen, Finance, Production Planing serta Controling. Walau mengaku terlalu dini untuk menyajikan manfaat dalam angka, namun Yusuf merasa puas dari hasil implementasi yang sudah mereka rasakan. Dia mengatakan, saat ini hampir semua proses bisnis yang ada sudah terintegrasi, supply chain berjalan dengan baik, dan yang paling penting adalah manajemen dapat memperoleh informasi yang cepat dan akurat. “Sangat membantu, khususnya dalam pembuatan rencana produksi dan juga sales serta pengukuran Key Performance Indicator,” ungkapnya.

Selain itu, manfaat lain yang dirasakan oleh NIC adalah berkurangnya pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya administratif, sehingga karyawan juga dapat bekerja dengan lebih efisien, order pun telah bisa dilayani online melalui aplikasi web. “Karyawan di tingkat supervisor bisa lebih fokus pada kegiatan analisa ketimbang menangani administrasi dan transaksi," ungkap Alex. Dia menyebutkan, NIC mampu menghemat jumlah SDM nya hingga 1,86% secara keseluruhan.


Untuk informasi lebih lanjut, hubungi :
Ahmad Chairuddin
Telp : 021 - 575 4871 / 0856 8877133
e-mail : ahmad.chairuddin@metrodata.co.id

Saranacentral Bajatama, Meningkatkan Penjualan dan Efisiensi dengan SAP R/3

Dengan SAP R/3, Saranacentral Bajatama (SB) berhasil mengoptimalkan kapasitas produksi, merencanakan persediaan lebih baik, daya tanggap terhadap para pelanggan lebih cepat dan akurat.

Berani berubah adalah prinsip yang diterapkan oleh Taufik Surya, Chief of Information Officer (CIO) Saranacentral Bajatama. Begitu bergabung dengan SB pada Mei 2003 dan melakukan kajian selama dua bulan penuh, mengambil keputusan untuk mengganti aplikasi ERP perusahaannya dengan yang baru.

Aplikasi ERP yang lama menurut Taufik tidak berhasil menciptakan otomatisasi dan integrasi data yang optimal untuk perusahaannya yang bergerak di bidang produksi lembaran/gulungan baja berlapis seng (galvanized steel sheet). Apalagi kinerja dan support implementator aplikasi ERP yang lama juga tak terlalu bagus. “Malah nyaris tak terdengar lagi kiprahnya,” tutur Taufik.

Proses pemilihan aplikasi ERP baru dimulai dengan survey memilih aplikasi ERP yang ada di pasar dan diputuskan 4 calon ERP yang akan diseleksi lebih lanjut. Alternatif membuat sendiri aplikasi ERP bukanlah pilihan yang menarik, selain tingkat kesulitan yang tinggi dan butuh sumber daya yang tinggi, juga pengelolaan dalam jangka panjang tidak efisien. Kriteria utama dalam pemilihan aplikasi ERP tersebut adalah reputasi dari vendor aplikasi itu sendiri karena menyangkut visi aplikasi itu ke depan. Selain itu, kelengkapan fungsi yang dibutuhkan SB, biaya investasi termasuk implementasinya, serta support turut menentukan pemilihan akhir. Dari hasil evaluasi, management SB memutuskan untuk menggunakan SAP R/3.

Proses pemilihan implementor juga cukup sulit, selain karena implementor di industri manufaktur belum banyak, apalagi di small & medium business industri baja . Referensi pelanggan yang sukses, support yang bagus, dan biaya implementasi yang kompetitif menjadikan METRODATA terpilih sebagai implementor SAP di SB. SB percaya bahwa METRODATA punya segudang pengalaman implementasi, didukung oleh para consultantnya yang profesional dan bersertifikasi. Implementasi dimulai sejak akhir Juni 2003 sampai Desember 2003, dan sejak Januari 2004 selama 2 bulan METRODATA mendampingi SB dalam masa transisi penggunaan SAP menggantikan aplikasi ERP yang lama.

Meski SB harus merelakan investasi Rp 1,5 - 2 miliar untuk mengimplementasi SAP, hasilnya ternyata menggembirakan. Yang pasti angka penjualan SB meningkat 15-20% di tahun pertama setelah implementasi sistem baru. Padahal tahun-tahun sebelumnya pertumbuhan penjualan sempat stagnan.

Peningkatan bisa dicapai karena sistem baru yang diterapkan di SB oleh METRODATA itu mampu mempermudah proses kerja di berbagai lini perusahaan. Di bagian penjualan misalnya, berkat terintegrasinya data, para wiraniaga bisa tahu posisi persediaan stok di pabrik beserta pola-pola ordernya. “Kami tahu pola dan tren kebutuhan konsumen sehingga memudahkan pengambilan keputusan produksi sekaligus mengoptimalkan kapasitas mesin. Customer relationship bisa dibangun lebih baik," tutur Taufik. Asal tahu saja pelanggan SB amat beragam. Mulai dari toko besi, industri otomotif misalnya untuk bahan knalpot, bodi mobil, juga untuk kebutuhan proyek apartemen, perkantoran dan pusat perbelanjaan (mall).

Bagian produksi pun menikmati manfaat setimpal. Kini proses perputaran bahan baku di pabrik dan masa kerja mesin lebih gampang dikalkulasi. Umpamanya bila mesin bekerja tiga shift dan dihidupkan selama 24 jam, bisa dihitung berapa tingkat produktivitas per jamnya dengan mudah. Dengan begitu, manajemen bisa tahu berapa kapasitas produksi mesin paling maksimal dalam jangka tertentu. Ini penting terutama untuk menentukan kemampuan memenuhi order sesuai kebutuhan pasokan bahan baku dalam jangka tertentu.

Manfaat dirasakan pula oleh bagian akunting. Dengan SAP, menentukan harga jual produk dan margin keuntungan menjadi lebih mudah. Juga menentukan harga jual produk dari order yang betul-betul baru. Dengan SAP, data item master-nya (data dasar) sudah ada di dalam sistem sehingga SB bisa melakukan simulasi produk dan harganya dengan cepat. "Sekarang tinggal memasukkan angka-angka spesifikasi aktualnya, sedangkan struktur cost-nya sudah masuk dalam sistem,” kata Taufik.

Kini sistem antar bagian di SB terintegrasi penuh, termasuk antara kantor pusat di Jakarta dengan pabrik di Karawang. Biaya telepon dan faksimili antara kantor pusat, pabrik dan pelanggan, bisa dihemat. Proses kerja manual tergantikan oleh sistem ERP.

Dengan menggunakan SAP R/3, Taufik sudah berani melakukan perubahan dalam SB, bagaimana dengan perusahaan Anda?

Remedy, Cara Mudah menanggulangi Keluhan User

Kerepotan PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk menangani komplain dan keluhan user yang demikian banyak setiap harinya, mendorongnya memanfaatkan solusi Remedy. Kendati belum maksimal, beragam efisiensi sudah bisa didapatkan.

Sebagus dan secanggih apapun pemanfaatan aplikasi bisnis di sebuah perusahaan, tidak selalu berkolerasi pada hilangnya komplain atau keluhan para karyawan (user), khususnya mereka yang terkoneksi dalam jaringan sistem. Hal ini setidaknya dialami oleh PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk (CPI), salah satu penggunan SAP di Indonesia.

Fabian Hadi Taslim, General Manager Information Communications CPI mengatakan, kendati perusahaannya saat ini telah mendapat dukungan tim Infocom (information communications) yang demikian banyak jumlahnya namun selalu saja kesulitan ketika harus menangani keluhan dari para user. Seperti biasanya, keluhan yang disampaikan lewat telepon itu beragam sifatnya, mulai dari yang komplain printer tidak berfungsi, internet lambat, sistemnya down (turun), masalah dengan SAP dan sebagainya. “Ada sekitar 30 hingga 40 keluhan yang masuk tiap harinya dan harus segera diberikan jalan keluarnya,” ujarnya. Maklum jika tidak cepat ditanggulangi, efeknya akan berpengaruh pada turunnya produktifitas kerja karyawan yang bersangkutan.

Dalam prakteknya, semua keluhan yang masuk ditampung satu per satu dan diberikan jalan pemecahannya. Sayangnya, solusi yang diberikan tenaga Infocom kepada para user itu bersifat manual dan tidak pernah tercatat dalam sistem. Kondisi seperti itu berdampak pada terjadinya pengulangan keluhan sejenis dikemudian hari dan terciptanya ketergantungan yang sangat tinggi kepada bagian Infocom.

Menyikapi kesulitan tersebut, ketika memasuki tahun 2003 manajemen CPI berinisiatif mencari software (solusi) yang bisa menjembatani permasalahan diatas. Setelah melewati proses window shooping, perusahaan akhirnya berketetapan untuk menggunakan solusi Remedy yang ditawarkan METRODATA.

Remedy merupakan solusi yang sangat bagus dan bisa difungsikan sebagai tool di bagian IT Service Management. Setidaknya, saat ini ada sekitar 6 ribu perusahaan di seluruh dunia yang sudah memanfaatkannya. Untuk perusahaan lokal, selain CPI, ada beberapa perusahaan yang sudah lebih dulu memanfaatkannya antara lain: Astra Honda Motor, Toyota Astra Motor, Sampoerna, Telkomsel, Bank Indonesia, Bank Mandiri, Bank Danamon dan Bank Rakyat Indonesia.

Selain itu, solusi Remedy ini sangat simpel penggunaannya. Tidak seperti produk kompetitor yang umumnya dikenal sangat sulit dan rumit. Soal fungsi dan manfaatnya, tidak diragukan lagi. Beberapa modul didalamnya meliputi; Pertama, aplikasi help desk. Berfungsi sebagai single point of contact -- menganut satu pintu saat seluruh user mengajukan keluhan menyangkut IT. Bagi tenaga IT, fasilitas ini bisa juga dimanfaatkan sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada seluruh user. Kedua, Asset Management. Bisa difungsikan sebagai tool untuk memastikan seluruh aset-aset IT yang dimiliki perusahaan mulai dari server, network, lisensi hingga inventory berfungsi sebagaimana mestinya.

Ketiga, Change Management. Berfungsi untuk me-manage sebuah perubahan. Katakan misalnya ada salah seorang user minta di-installkan hardisk baru. Melalui fasilitas ini, tenaga TI akan bisa melihat secara detail, apakah permintaan itu layak atau tidak yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan di sisi user.

Wajar kiranya jika Fabian saat ini sudah merasakan manfaat pemakaian solusi Remedy tersebut. Hampir semua user katanya, yang jumlahnya mencapai ribuan dan tersebar di berbagai wilayah sudah bisa menikmati efisiensi dari pemakaian solusi berbasis web tersebut. Bahkan menurutnya, tenaga Infocom tidak lagi melayani keluhan user secara manual (lewat telepon) tapi cukup lewat komputer. Begitu pula dari sisi user, mereka cukup log in ke sistem. Jika ada masalah kerusakan dengan komputer atau fasilitas IT yang dipakainya, mereka tinggal menuliskan masalahnya, secara otomatis akan terkirim ke bagian Infocom. Dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, bagian Infocom akan memberikan solusinya lewat fasilitas yang sama tanpa harus berinteraksi lewat saluran telepon.

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi :
Ahmad Chairuddin
Telp : 021 - 5754871 / 0856 8877133

Nutrifood Indonesia, Memuaskan Pelanggan Dengan Microsoft CRM

Nutrifood Indonesia makin efektif merespon keluhan pelanggan dengan memanfaatkan solusi Microsoft CRM. Penjualan meningkat dan peluang-peluang bisnis pun terbuka.

Pelanggan adalah raja, dan harus dilayani sebaik mungkin. Tujuannya agar puas dan kembali membeli produk yang ditawarkan. Prinsip bisnis berusia ribuan tahun ini, terus diikuti PT Nutrifood Indonesia, perusahaan yang dikenal dengan produknya, antara lain NutriSari dan Tropicana Slim.

Pentingnya pelanggan buat Nutrifood ditunjukkan dengan waktu tanggap yang cepat terhadap setiap keluhan dari konsumen atas produk yang dijual ke pasaran. Selama bertahun-tahun, keluhan yang sebagian besar disampaikan melalui telepon, dicatat oleh petugas diatas kertas, baru kemudian dimasukkan ke database dan ditindaklanjuti. “Semuanya serba manual,” kata Abraham Martinus, Decision Support & System Manager PT Nutrifood Indonesia.

Cara penanganan keluhan seperti ini, tentu saja memiliki kelemahan karena tergantung ketelitian karyawan dalam mencatat dan mengirimkan pesan keluhan kepada brand manager dan unit lainnya. Tapi itu dulu. Sekarang sudah jauh berbeda. Dengan aplikasi Microsoft CRM (Customer Relationship Management), begitu customer selesai telepon ke customer call center Nutrifood, e-mail pemberitahuan dan alur kerja (workflow) penyelesaian keluhan berjalan secara otomatis, sehingga semua orang yang terkait di Nutrifood langsung tahu. “Proses kerja makin efisien, dan kami bisa lebih baik mendeteksi dan menanggapi masalah yang ada,” tambah Abraham.

Perusahaan yang didirikan pada tahun 1979 ini, sejak Agustus 2004 memutuskan menggunakan aplikasi Microsoft CRM. Sebenarnya sejak tahun 1995, Nutrifood sudah memiliki departemen Customer Relation yang menangani CRM. Waktu itu database customer diinput dan diolah secara manual dan hanya digunakan untuk pengiriman majalah internal kepada pelanggan yang loyal. Prosedur CRM untuk penanganan keluhan yang datang dari customer juga manual pengerjaannya.

Seiring waktu, data semakin banyak, muncul permintaan untuk menggunakan aplikasi khusus untuk mempermudah proses kerja. “Saat itu saya belum punya gambaran di luar ada solusi apa saja, sehingga sempat terpikir untuk membuat sendiri. Kemudian ada informasi bahwa saat itu ada tiga solusi paket di pasar, itu pada awal 2004,” kata Abraham.

CRM dari Microsoft dinilai yang paling pas. Menurut Abraham, dari sisi teknologi, aplikasi dari Microsoft lebih mudah diimplementasikan karena basisnya sama dengan sistem operasi yang digunakan Nutrifood. Lalu dari sisi dana juga lebih terjangkau dibandingkan solusi lain.

Nutrifood akhirnya memilih PT Mitra Integrasi Informatika (MII) – anak perusahaan kelompok usaha METRODATA, menyisihkan empat perusahaan lain. Di sini harga bukan satu-satunya faktor penentu, faktor kepercayaan lebih jadi alasan utama mengapa MII terpilih. Nutrifood lebih yakin akan kemampuan dan pelayanan MII. Pertama, tanggapan yang cepat dari MII selama support. Kedua, reporting yang dilakukan MII sangat jelas, prosesnya sampai dimana, kesulitannya seperti apa, status project sangat jelas. Yang ketiga, sumber daya manusia yang disediakan itu benar-benar didedikasikan untuk pelanggan.

Kini, setelah lebih dari tiga bulan aplikasi ini berjalan sepenuhnya, selain otomatisasi dan efisiensi penanganan keluhan, manfaat lain yang dapat dirasakan adalah kecepatan dalam proses pencarian data pelanggan dari database. Sebagai contoh, jika sebelumnya perlu waktu sekitar dua jam untuk mencari nama-nama konsumen yang akan dikirimi majalah internal, kini hanya memakan waktu 15 menit. Selain itu, dulu untuk memenuhi permintaan bagian riset di lapangan mengenai list candidate for research, perlu waktu sampai dua jam. Kini dalam waktu sekitar 10 menit bisa diberikan.

Kehadiran Microsoft CRM, bukan hanya digunakan untuk penanganan keluhan saja, melainkan dapat digunakan oleh bagian marketing dan promosi untuk mengembangkan dan mengeksekusi berbagai strategi marketing. Harapannya akan terintegrasi marketing communications dengan CRM. Ujungnya, pelanggan pun makin menjadi raja yang puas, dan penjualan bisa meningkat.

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Ahmad Chairuddin
Telp : 021-5754871 / 0856 8877133

Sierad Produce, Berbisnis Kompetitif Dengan Axapta

Menjalani bisnis yang menuntut kecepatan proses, Sierad Produce memanfaatkan solusi Microsoft Axapta. Kebocoran biaya produksi pun teratasi.

Kualitas dan harga adalah dua komponen yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan bisnis. Terlebih lagi bagi perusahaan yang bergerak di sektor bahan makanan, seperti PT Sierad Produce Tbk. Perusahaan yang awal berdirinya pada tahun 1985 diberi nama PT Betara Darma Ekspor Impor ini, bergerak di bidang industri ternak ayam dari hulu hingga hilir.


Sierad saat ini memiliki lini usaha produksi pakan ternak (feedmill), peternakan (breeding), rumah potong ayam dan pemegang eksklusif lisensi franchisee Wendy’s & Hartz Chicken Buffet di Indonesia. Untuk feedmill ada tiga unit pabrik yang berada di Balaraja-Tangerang, Surabaya, dan Lampung.

Mengingat beberapa pabrik yang terpisah lokasinya, juga beragamnya lini bisnis, Sierad memerlukan dukungan teknologi informasi yang handal. Apalagi bisnis-bisnis yang digeluti Sierad Produce tergolong yang menuntut kecepatan proses. “Kami tidak bisa menimbun produksi di gudang, karena akan menyebabkan kualitasnya menurun,” kata Direktur Corporate Secretary Sierad Produce, FX. Awi Tantra.

Awi juga menambahkan bahwa Sierad sudah merasakan efisiensi dalam produksi dan biaya. Kami juga mendapatkan informasi yang cepat dan akurat sehingga pengambilan keputusan mengenai strategi perencanaan perusahaan bisa lebih cepat. Sulitnya, jika pihak Sierad tidak tahu berapa banyak inventori yang tersedia, dan saat bagian produksi mau memproduksi ternyata bahan bakunya tidak ada, jelas produksi akan kacau. Begitu pula kalau pihaknya tidak punya informasi harga bahan baku secara akurat, tentu akan sulit menentukan harga.

Menambah kerumitan, bahan baku yang digunakan Sierad sebagian besar merupakan barang impor, karena itu harganya fluktuatif menyesuaikan nilai tukar dolar. Semua makin menegaskan, Sierad perlu sistem yang mampu mengintegrasi data-data yang ada di sektor produksi, inventori, dan penjualan.

Menyadari kebutuhan itu, Sierad kemudian membentuk sebuah tim yang melakukan kajian terhadap beberapa aplikasi TI yang bisa pas untuk perusahaan. Hasilnya, tim yang juga melibatkan pemilik bisnis ini merekomendasi Microsoft Axapta yang paling cocok untuk digunakan.

Menurut Leo Budi Jana, Direktur TI Sierad, kelebihan Microsoft Axapta terletak pada fiturnya yang lengkap. Solusi lain memiliki beberapa kekurangan, misalnya tidak ada modul produksi, sehingga mungkin cocok bagi perusahaan lain namun tidak cocok bagi Sierad Produce. “Apalagi saat saya membaca beberapa laporan dari konsultan-konsultan independen, saya lihat ranking Axapta memang lebih tinggi,” tutur Leo.

“Microsoft Axapta dari segi arsitektur, desainnya sekitar 65 persen standar, 35 persen bisa di-customized sesuai dengan business process pelanggan,” kata Leo. Business process di Sierad agak berbeda dengan kebanyakan perusahaan, sehingga cocok dengan Microsoft Axapta yang mudah di-customize.

Kelemahan dan kekurangan di sistem yang sebelumnya digunakan, sekarang sudah dapat teratasi. Menurut Leo Budi Jana, hal itu tentu saja pada gilirannya akan memiliki pengaruh pada finansial perusahaan.

Leo menilai bahwa pemilihan PT. Mitra Integrasi Informatika (MII)—anak perusahaan kelompok usaha METRODATA sebagai mitra dalam implementasi solusi Microsoft Axapta adalah karena MII memiliki sumber daya yang berpengalaman dalam hal implementasi Microsoft Axapta. Waktu yang diperlukan tim Microsoft Axapta MII dalam melakukan implementasi solusi Microsoft Axapta hingga mencapai ‘go live’ di Sierad adalah 8 bulan, termasuk instalasi, pelatihan terhadap pengguna dan dukungan pengoperasian. Bahkan lebih cepat dari satu bulan dari yang dijadwalkan berkat solidnya kerjasama kedua tim.

Dengan sistem yang terintegrasi serta kustomisasi yang tepat, kekeliruan pembukuan bisa langsung terlihat. Jadi, stok yang tercatat di buku dengan yang sebenarnya terjadi di lapangan tidak berbeda. Kebocoran biaya pun bisa diatasi. Selain itu kontrol produksi menjadi lebih mudah dilakukan sehingga kualitas dapat terjaga. Hal itu dapat mengurangi jumlah barang yang diretur oleh customer. Efisiensi pun meningkat.

Melihat sukses yang dipetik, Sierad pun berencana memperluas penggunaan Axapta. Pada tahap awal, Axapta ini baru digunakan di feedmill Sierad, di Balaraja, Tangerang. Nantinya akan menyusul di Surabaya dan Lampung. Data makin terintegrasi, kualitas barang dan produk terjaga, bisnis pun melenggang kencang.

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Ahmad Chairuddin
Telp : 021 - 575 4871 / 0856 8877133

Jumat, Januari 11, 2008

Suzuki Finance Indonesia, Kerja Lebih Cepat, Biaya Jadi Lebih Hemat Dengan Citrix

Citrix mampu meningkatkan efisiensi kinerja jaringan Suzuki Finance Indonesia hingga 4 kali lipat, menghilangkan kompleksitas penanganan aplikasi utamanya, dan menyediakan waktu bagi tim TI untuk mengembangkan strategi.

PT Suzuki Finance Indonesia (SFI) merupakan salah satu dari sekitar 130-an perusahaan pembiayaan yang beroperasi di Indonesia pada saat ini. Perusahaan yang mulai beroperasi pada bulan Mei 2005 ini, kini memiliki 40 cabang yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pencapaian jumlah kantor cabang sebanyak ini dalam waktu tak sampai satu tahun, menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis perusahaan ini tergolong tinggi.

Untuk mendukung pertumbuhan perusahaan ke depan—target tahun ini menambah jumlah cabang paling tidak menjadi 59 cabang,--SFI memerlukan dukungan sistem teknologi informasi yang memadai. Ini memang merupakan tuntutan bagi sebuah perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan, karena berkaitan dengan kualitas layanan kepada pelanggannya.

Dalam lima bulan pertama beroperasi, SFI menghadapi kendala serius berkaitan dengan sistem TInya. Pada jam-jam sibuk, proses transaksi sering melambat bahkan terhenti. Penyebabnya adalah kapasitas bandwidth 128 kbps seringkali terpakai habis di jam-jam sibuk. Selain itu, seringnya update versi terbaru sistem aplikasi di sisi pengguna karena penambahan fungsi--sebelum bisa menggunakan aplikasi tersebut, menambah kompleks penanganan update dan pengawasan versi.

Di saat itulah tim TI SFI mengambil keputusan untuk memecahkan masalah tersebut dengan mengundang beberapa vendor TI. “Saat itulah METRODATA mengenalkan Citrix. METRODATA membantu kami secara menyeluruh mulai dari eksplorasi solusi tersebut hingga membuat proyek percontohan,” kata IT Manager PT Suzuki Finance Indonesia, Budi Setiono.

Mulai pertengahan September 2005, metode akses aplikasi yang dipakai SFI secara client-server diganti secara bertahap dengan metode akses Citrix. Awalnya dua kantor cabang di luar Jawa dijadikan proyek percontohan. Penambahan cabang yang menggunakan Citrix terus dilakukan hingga pertengahan Oktober seluruh cabang yang saat itu jumlahnya 20, sudah menggunakan Citrix. Dan sekarang sudah berkembang menjadi 40 cabang.

“Dengan Citrix, aplikasi cukup dikelola di kantor pusat saja, sehingga meniadakan kompleksitas update dan pengawasan versi aplikasi pengguna di tiap cabang. Sebelum menggunakan Citrix, bandwidth kita penuh di jam-jam transaksi. Dengan Citrix, penggunaan bandwidth tidak lebih dari 64 kbps di satu cabang untuk sekitar 10 komputer atau kira-kira hanya terpakai separuh dari kapasitas 128 kbps, sehingga sisa bandwidth yang ada dapat untuk mengoptimalkan VOIP dan Fax over IP antar cabang dan HO untuk mengurangi biaya operasi komunikasi antar cabang.”, tutur Budi.

“Semua proses dari mulai proyek percontohan hingga roll out kami dibantu tim METRODATA dengan kemampuan yang handal dan profesional. Inilah yang menjadikan alasan utama kami mengapa memilih METRODATA sebagai mitra kami,” jelas Budi. Dukungan setelah roll out pun masih dilakukan METRODATA.

Selain itu, Citrix juga mempercepat data entry per aplikasi, dari sekitar 40-50 menit–paling cepat 30 menit—untuk data entry satu aplikasi, karena banyaknya data yang mesti diinput dan lambatnya response time, menjadi hanya sekitar 15 menit. “Bahkan jika sudah terbiasa dapat lebih cepat lagi,” tandasnya.

Saat ini jaringan kerja SFI meliputi branch, sub branch, dan representative office sudah online dengan head office. “Dengan menggunakan bandwidth yang kurang lebih hanya setengah dari kapasitas, ada peluang untuk mengembangkan jaringan mikro berupa POS (point of sales) dengan memanfaatkan koneksi dial up sehingga dari mana pun dapat terkoneksi dengan aplikasi di kantor pusat melalui Citrix, arahnya seperti itu,” kata Budi Setiono.

Selain membantu mengelola akses, Citrix dapat meningkatkan efisiensi 4 kali lipat berupa rendahnya penggunaan bandwidth dan sumber daya manusia. “Sebelum menggunakan Citrix kami baru memiliki sekitar 20 cabang dan 16 staf TI dan saat itu saya merasa kekurangan orang,” kata Budi. Nah, setelah menggunakan Citrix SFI sekarang memiliki 40 cabang dengan 600 users dengan jumlah staf TI yang sama. Kami yakin masih mampu menangani lebih banyak lagi cabang yang artinya lebih banyak lagi penggunaan komputer.

Keuntungan lainnya adalah, jika sebelumnya jam kerja Budi habis untuk memimpin timnya membenahi masalah-masalah yang muncul akibat aplikasi yang terhenti di jam-jam sibuk, kini Budi punya banyak waktu untuk memikirkan pengembangan TI. “Saat ini saya bisa mulai mengembangkan strategi TI kedepan, misalnya dengan mengembangkan notifikasi status server dengan sms, atau juga notifikasi sms kepada para pelanggan kami, atau approval transaksi yang dilakukan dari outlet menggunakan PDA. Kalau dulu tidak mungkin bisa saya lakukan karena terlalu sibuk dengan mengurus aplikasi itu,” tuturnya.


Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:
Ahmad Chairuddin
Telp : 021 - 5754871 / 0856 8877133

Nusa Keihin Indonesia: Proses Data Makin Efisien dan Transparan dengan Microsoft Dynamics AX

Microsoft Dynamics AX membuat proses data lebih mudah dan dinamis. Tradisi lembur sampai pagi di kantor kala akhir bulan, kini tidak ada lagi.

Saat skala produksi belum terlalu besar dan waktu pelaporan cukup longgar, PT Nusa Keihin Indonesia (NKI) tidak menghadapi masalah berarti dengan aplikasi proses data dan pelaporannya. Dengan menggunakan aplikasi yang dibuat sendiri, semuanya masih dapat diselesaikan pada waktunya. Namun kondisi jadi berbeda saat produksi semakin meningkat, sementara waktu pelaporan data yang diminta perusahaan induk semakin pendek.

NKI adalah perusahaan manufaktur patungan Indonesia-Jepang. PT Astra Otopart, Tbk. menguasai 51% dan Keihin Seimitsu Kogyo Co. Ltd. menguasai 49%. Sebagai bagian Astra Otoparts, NKI mempunyai tanggung jawab memberikan laporan bulanan sesuai tenggat waktu yang ditetapkan perusahaan induknya itu, yang juga merupakan sebuah perusahaan terbuka.

"Jadi, tantangan bisnis yang kami hadapi adalah permintaan laporan data dari Astra Otoparts dan akurasinya. Deadline permintaan data selama beberapa tahun terakhir maju terus. Awalnya tanggal 15, kemudian maju menjadi tanggal 10, maju lagi tanggal tujuh, kemudian menjadi tanggal lima," kata Tutuka Andriyatno, Direktur NKI.

Sementara itu, total produksi perusahaan ini makin besar. Bisnis utama NKI yakni di bidang machining dan sub assembling untuk industri otomotif dengan produk utama floor shift transmision control untuk kendaraan roda empat, dengan jumlah sekitar 10 ribu unit per bulan. Selain itu, perusahaan yang hanya memiliki 63 karyawan ini, juga memproduksi crank case cover motor dan hub roda sepeda motor. “Saat ini produksinya mencapai 40an ribu unit per bulan”, tambah Lily Herawati, Finance & Acc. Dept. Head NKI.

Seiring dengan majunya tenggat waktu pelaporan data ke perusahaan induk dan skala produksi yang besar, serta kebutuhan tambahan fungsi lainnya, aplikasi TI yang dibuat sendiri itu harus dikembangkan sesuai dengan permintaan. "Namun pengembangannya terasa sangat lama, telah lebih dari setahun namun belum juga selesai. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk mencari solusi jadi yang mampu menangani kebutuhan kami," kata Lily. Suatu hari ada yang menyarankan untuk hadir dalam METRODATA Solutions Day pada tahun 2005 lalu. Dari beberapa alternatif, Microsoft Dynamics AX dipilih karena selain memenuhi kebutuhan kami, juga lebih mudah digunakan, lebih user friendly, karena kami sudah terbiasa menggunakan produk Microsoft Office.

"Selain itu, kita mau solusi yang cost effective. Bagi kami sebenarnya sistem apa saja tidak masalah, asal dapat memenuhi kebutuhan kami," tandas Tutuka Andriyatno. "Saat akan memilih sistem, kami memang menetapkan kriteria yakni gampang dipakai, sesuai dengan kebutuhan, dan investasinya terjangkau," jelas Lily Herawati. Ditambahkannya, nama besar Microsoft juga mendukung untuk mendapat persetujuan penggunaan Microsoft Dynamics Axapta ini dari mitra bisnis di Jepang.

PT Mitra Integasi Informatika (MII)--anak perusahaan PT Metrodata Electronics Tbk menjadi pilihan karena NKI menginginkan one stop shopping solution. Mulai dari hardware, software, implementasi hingga pelatihan, semua dari MII. Dengan demikian tidak dipusingkan urusan koordinasi antar vendor dan tahu beres saja. Selain itu diharapkan juga waktu implementasi dapat dipersingkat. Dibuktikan, implementasi hanya makan waktu 3 bulan, mulai Januari sampai April 2006. "Sedangkan user friendly dari solusi tersebut dibuktikan dengan learning by doing. Pokoknya langsung praktik, sehingga gampang ingat. Kalau ada masalah kita dapat menanyakan langsung pada konsultan MII, karena kami dibantu selama satu bulan masa transisi," tambah Lily.

Sebelum menggunakan sistem ini, sebenarnya semua data yang dibutuhkan itu sudah tersedia. Namun waktu itu kami harus entry data dari kertas laporan dan kemudian diproses. Pencarian data masih dilakukan secara manual. "Akibatnya di akhir bulan selalu lembur. Bahkan sampai menginap di kantor agar dapat mengejar tenggat waktu yang ditetapkan," urainya.

"Sekarang sudah terasa manfaatnya. Habis makan siang pada tanggal satu, saya sudah bisa mendapatkan data berapa produksi bulan lalu," kata Tutuka. Meskipun transaksi sedang banyak, tidak perlu sampai menginap seperti sebelumnya. Kelebihan lain, akurasi data lebih terjaga karena masing-masing departemen bisa mengontrol. End user yang entry, kemudian masing-masing atasannya memeriksa sekaligus posting. Ini meminimalkan kesalahan dalam proses data entry. Selain itu, jadwal kedatangan bahan baku, jadwal produksi, jadwal pengiriman, serta spesifikasi barang yang sedang dibuat semua bisa diakses secara transparan dari sistem. Jadi tidak lagi perlu bertanya-tanya atau mencari-cari informasi pada orang lain. Kerja makin efisien dan mudah dengan Microsoft Dynamics AX..
Untuk informasi lebih lanjut atas Product Business Solution di atas, hubungi :
Ahmad Chairuddin
No.telp : 021 - 575 4871 / 0856 8877133